Tuesday, October 3, 2017

Teroesir (red: terusir) (2)

    Sudah cukup melintas balik kenangan itu dalam pikiran, hanya menghabiskan waktu dan mengikis perasaan saja.

    Namun tak akan habis dalam lembar baru kehidupanku, kehidupan yang aku harapkan dapat memberikan pelajaran kehidupan padaku, supaya aku lebih baik dan bangkit dari gundukan fitnah dan caci maki yang kuterima pada fase kehidupanku sebelumnya. Pengkhianatan terbesar dalam hidupku, kau tak lagi mengenal siapa teman yang tiga tahun ada disampingmu, kau tak lagi mengenal sahabatmu sejak awal kau kenal karena senasib, tak lagi kau jumpai orang alim yang selalu menasehatimu itu lagi karena dia sudah ternoda oleh nafsunya sendiri. Siapa lagi yang dapat aku percaya saat orang yang paling aku percaya berkhianat? Terusirlah sudah aku dari persahabatan yang kita gadang gadangkan menjadi abadi sampai liang lahat nanti, seiring terkuburnya pula harapanku mengenalkan anak kita masing masing kelak saat sudah berkeluarga.
    Terusir sudah aku dari keluarga besar instansi yang namanya telah aku tinggikan namun namaku sendiri kuabaikan.

    Di tengah safarmu menuju fase selanjutnya, kau bertemu senjamu yang syahdu. Semburat jingganya membelaimu manja seiring malam tiba, sang senja selalu melindungimu dari segala yang akan menyakiti fisik dan batinmu. Namun, sang senja tidak pernah benar benar aku raih, hanya bayang semburatnya yang kurasakan, tak pernah sesungguhnya kusentuh hati sang senja. Sang senja begitu suci untuk disentuh hatinya, tak pernah ada niatan apapun menyakiti sang senja, faktanya, karena diam diam aku mencintai sang senja. Cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, cinta yang bahkan tak ada niat untuk memiliki, hanya untuk melihatnya bahagia di jalannya sendiri. Sang senja memikatku dengan pribadinya yang begitu santun, sang senja tidak perlu menunjukkan apa apa untuk membuatku kagum, dirinya seorang membuatku belajar banyak hal.
    Namun sang senja telah menemukan cakrawalanya, cakrawala yang akan menaunginya, cakrawala yang akan senantiasa melindungi dan mencintai sang senja sampai benamnya. Kini sang senja telah merekuh bersama cakrawala jingga,
Indah,
Di langit,
Dan tak akan bisa kusentuh lagi
Bahkan untuk terakhir kali
    Sang senja berubah menjadi malam nan dingin, kadang bertabur bintang, kadang sendu dengan kabutnya menutupi bulan. Tak pernah kutemui sang senja lagi sejak ia sudah menjadi malam dengan cakrawalanya. Padahal aku selalu merindukan sang senja, karena aku bernaung padanya, melepas penat dan segala keluh kesah.
    Suatu hari cakrawala kelabu, ia tak lagi menampakkan keindahan sang senja, ia sering hujan dan disertai halilintar, menusuk hati siapapun yang melihat dan mendengarnya. Sudah kukatakan pada sang senja untuk berhati hati, untuk senantiasa menjaga keindahannya. Namun apa yang dikatakan sang senja padaku benar tragis
    "Aku mencintai cakrawalaku, yang senantiasa menaungiku dan pula mencintaiku. Jangan usik kami"

    Aku terusir dari jingga sang senja, menyisakkan bulir bulir air di mataku mengenang semua hal yang kuceritakan pada sang senja, dan bagaimana kami disatukan dulu.
    Aku terusir karena sang senja sudah menemukan cakrawalanya, kini sang senja sudah berubah menjadi malam dengan bintangnya nan sempurna, dikagumi insan di dunia.
    "Kutunggu kau di asana selepas senja"
    Kau temukan senjamu kini.

Teroesir (red: terusir) (1)

    Aku bersumpah akan menutup rapat rapat lembaran usang masa kelamku, dimana manusia bermuka dua tak lain adalah karibku. Dimana dibalik semua peluk ada belati yang ditancapkannya ke punggungku, dan manusia yang mengeksploitasi jiwaku sesuka mereka sampai aku terjatuh dan tak ada yang peduli. Jangankan peduli, menengok saja tak sudi. Tak lama kulupakan semuanya, lalu kubumihanguskan kenangan emas itu dengan memasukkannya ke kobaran jago merah. Seiring sisa sisa kertas merangkak naik lalu turun kembali ke tanah menjadi abu, begitulah hatiku saat kau dustai.
    Seiring kubumihanguskan mushaf mushaf itu, wajahnya tampak lagi, cinta pertamaku masa sekolah. Tak pernah kunilai ia sekedar paras, cinta ini suci bukan melihat material. Sosoknya yang santun, bertalenta dan selalu ingin tahu, membuatku tertarik seketika. Seakan seluruh dunia tau kita adalah sepasang insan yang sedang kasmaran, padahal kita tak lebih dari sahabat. Namun apa yang kupunya, ketika teman temanmu selalu menilaiku secara fisik. Aku memang tak anggun, tak memiliki paras bak bidadari, apalagi bentuk badan seperti gitar spanyol.
    Lama tak kuhiraukan celaan celaan temanmu tentang bagaimana hinanya aku mengharapkan dirimu, bak pungguk merindukan bulan. Namun tekanan itu semakin ada dan semakin menguat, aku tak tahan lagi menerimanya. Lalu sudilah aku menyiksa diriku sendiri sampai mendekati ajalku, untuk menjadi wujud wanita ideal bagimu, atau bagi perspektif temanmu? Namun apa yang kulihat, wahai pemain gitar? Kau di bibir pantai itu bersamanya yang saat ini kau cinta. Rasa hati ingin menyiksa diriku lagi sampai bertemu malaikat pencabut nyawa. Kau yang kutunggu dasawulan ini, kau yang selalu kuusahakan apapun, kau yang ku cintai sejak awal kita berjabat tangan masa itu, kau, yang aku hampir mati demi menyempurnakan fisikku, lalu kau tinggal aku bersama temanku sendiri?
    Wahai, pemain gitar. Tak sudi lagi aku menyebut namamu dalam doaku lima waktu. Tak sudi lagi aku mengingat potret bersama kita yang mesra. Tak sudi lagi aku bahkan menyebut namamu di bibir ini.
    Pemain gitar, aku telah terusir dari melodi indah yang dihasilkan keenam senarmu. Kini ku bukanlah sumber inspirasi mahakarya simfonimu.

    Wahai engkau sang pujangga, syairmu membelaiku manja saat aku terpuruk menatap kelamnya langitku. Namun tak semudah itu aku dirayu lagi untuk mencinta, tak semudah itu melupakan dia yang berkhianat. Apalagi kau seorang pujangga yang dipuja puji khalayak banyak, dan karibku konsumen setia syair indahmu, tak mungkin aku mengkhianati saudariku sendiri. Namun rumor hangat yang menyatakan kedekatanmu dengamu berhembus santer, dan sampai ke telinga saudariku. Kau sudah tau yang terjadi, teror dan caci maki dihadapkan padaku, padahal tak satupun aku menambatkan rasa padamu, sang pujangga. Siapa yang menebar kebencian ini yang begitu dalam? Lalu aku lagi yang terusir dari kursi itu.
    Sang pujangga, jangan kau dustai perasaanmu dengan lebih memilihku dibanding wanita se sempurna merpati putih itu. Jangan kau bermanis lidah denganku karena sudah banyak janji palsu yang kulahap. Jangan kau tumbuhkan harapan itu jika kau tak berniat menuainya. Aku sungguh tidak butuh cinta itu, aku hanya membutuhkan teman untuk bersandar. Kau tarik ulur terus perasaanku sampai akupun lelah, kau ikat aku lalu kau lepaskan aku saat merpati putih itu kembali.
    Sampai kau berniat memelihara merpati putih itu, sudah lama kunantikan kabar itu. Lalu kau meminta maaf padaku setelah kau mengusirku dari penamu.
    Tak berguna, wahai pujangga. Sudah kukatakan dari awal, tak sampai syairmu melelehkan hatiku, kau hanya ingin semakin dikenal dengan menyangkutkan namaku dalam kabar burung tersebut.
    Aku telah terusir sepenuhnya dari bait bait seorang pujangga yang syairnya menyeruak dalam jiwa.

Sunday, September 24, 2017

Planners

    Planners maksudnya adalah orang orang yang terlalu suka/sering membuat planning untuk hidupnya (re: ambisius), sehingga ia tidak mampu menikmati hidupnya karena dia selalu terikat dengan rencana rencana kehidupan yang membutakannya dari arti kehidupan itu sendiri.
    I am one of them, aku adalah tipe orang yang sangat terikat dengan goals yang sudah aku catat. Ditambah aku ini orangnya perfeksionis, wheter it's my strenght or my weakness. Jadi plans apapun yang aku tulis harus terjadi sesempurna yang aku tulis. Ini menjadi kelemahan karena I tend to push myself too hard, way even harder than my parents ever told me to be something. Sebenernya orangtuaku nggak pernah sama sekali nyuruh aku untuk sekolah dimana atau ngambil minat/jurusan apa sejak aku TK, akunya aja yang terlalu ingin 'berhasil' membuahkan sesuatu.
    I mean, everyone has their goals and targets, kita semua pingin sukses dan pingin membanggakan orang yang kita sayangi of course. Semua orang pingin berhasil udah pasti. Tapi ada sebagian orang yang (mungkin) dia kurang bersyukur dan terus terusan mendorong dirinya sendiri sampai ke titik lelahnya karena dia menganggap pencapaiannya itu belum seberapa. Aku benar sudah mencapai titik ini.
    Aku sadar aku sudah sampe titik ini ketika aku lagi melamun di depan jendela kamar, duduk di kursi meja belajar. Waktu TK aku sudah disayang sama guru karena 'bakatku' yang pede, aku jadi mayoret marching band TK dan berhasil jadi juara I waktu itu. Aku juga ikut paduan suara dan jadi dirigen (padahal sekarang suaraku jauh dari kata bagus). Waktu SD semakin luas duniaku, aku ikut olimpiade sains kuark dan bisa sampe provinsi, aku jadi anggota PKS (pasukan keamanan sekolah), main pianika di marching band sekolah, dikenal dan disayang guru-guru, tampil menari di acara sekolah, membawakan drama bahasa inggris di perpisahan kakak kelas dan membacakan pidato bahasa inggris waktu kelulusanku. Waktu SMP semuanya berubah, latar belakang teman temanku bikin aku kaget dan agak susah beradaptasi. Tapi aku juga selalu berprestasi, aku selalu 10 besar, aku jadi ketua II OSIS, aku jadi Duta Pelajar Anti Napza 2013, dan pencapaian terbesarku adalah membawa nama SMPku yang sebelumnya belum pernah ikut JRBL jadi ikut JRBL dan belum ada yang berhasil lagi setelahku. Benar aku dikenal dan disayang guru, sampai detik ini pun aku masih dikenal oleh guru-guru SMP, tapi kegagalanku bermula, output dari belajarku di kelas IX tidak membuahkan hasil yang baik, aku down karena terlalu mementingkan orang lain dan membawa nama baik sekitarku.
    Di SMA ini aku berharap menemukan kembali harapanku untuk maju, dan memang akhirnya aku menemukannya. Namun semuanya kembali lagi seperti dulu dimana aku sibuk dengan segala hal. Lomba pidato/debate, lomba tonti, olimpiade geografi, OSN tingkat provinsi, dan saat ini, orkes biola untuk PENDIS EXPO yang rencananya akan diadakan pada akhir bulan November. Sedangkan UN dikabarkan akan diadakan Februari, entah apa yang sedang aku pikirkan untuk mengambil keputusan itu, karena sesungguhnya aku ini DIPILIH dan TERPILIH, bukan MEMILIH.
    Banyak orang lalu memujiku, "beruntung banget lo, tih, kamu bisa sampe sana" , "bahasa inggrismu bagus banget" , "gila, kamu belajar biola dari nol dan sekarang kamu udah bisa main selihai ini?" , "kamu bisa instrumen banyak loh, les dimana?" , "wah kamu pinter banget geografinya, gampang ngehafal ya?" , "kok bisa sih kamu ngafalin segitu banyaknya" , "udah to kamu tuh nggak perlu nangis soal cowok, kamu udah sempurna nantinya akan diperebutkan sama cowok" , "bisa masak, multitalent, pinter, kamu kurang apa coba" , "pasti Ozi beruntung banget punya pacar kayak kamu". You don't know the story behind my greatest achievement.
    Aku sering di-judge sok inggris waktu pertama kali belajar bahasa inggris dan berusaha mengaplikasikannya. Aku nggak tidur 2-3 malam buat ngerangkum dan melahap semua materi geografi menjelang OLGENAS atau OSN kemaren. Aku nggak tidur lagi 2-3 malam buat ngejer materi dan ngerangkum buat UTS pasca OSN Kota. Aku banyak mengorbankan weekendku buat kegiatan sekolah dan jadi jarang sama orangtua. Maag dan darah rendahku sering kambuh seiring aku yang jarang tidur dan jarang makan. Aku berantem sama Ozi karena dia nyuruh aku istirahat tapi aku nggak mau karena terlalu banyak kerjaan yang harus aku selesaiin dalam waktu dekat, dia mengkhawatirkanku, sama seperti bunda mengkhawatirkanku walau nggak pernah dibilangin. Aku belajar alat musik, belajar masak, belajar editing video/musik semua sendiri, aku nggak pernah les bahasa inggris atau kursus apalah. Aku nggak pernah bimbel, cuma pernah privat, itupun nggak mau lagi karena mending aku belajar sendiri sampe paham daripada bunda harus keluar uang lagi walau bunda nggak pernah ngeluh soal itu. Aku sering gagal, SANGAT SERING, menghadapi penolakan, memutusan secara sepihak, dibatalkan secara tiba-tiba oleh sekolah, tidak didukung, menang tapi tidak ada anggota keluarga yang menyaksikan, jatuh dan menangisi ijazah, merutuki diriku yang gagal membuat mereka semua bangga.
    Aku ini anak tunggal.
    "Ya makanya orangtuamu fokus banget ke kamu, jadi nggak apa apalah kamu kursus banyak demi masa depan kamu"
    Aku ini anak tunggal, perempuan.
    "Makanya kamu harus jadi calon istri yang baik pula, kamu anak emas semata wayang orangtuamu. Nggak heran kamu harus sempurna, dan memang orangtuamu mendoakanmu seperti itu"
    Jarak umurku dengan orangtuaku jauh.
    "Maka dari itu kamu harus mempersiapkan diri untuk mandiri dan jadi wanita karier supaya sebelum kamu menikah nanti kamu sudah dapat menghidupi dirimu sendiri dan kedua orangtuamu"
    Aku bukan berasal dari keluarga kaya raya.
    "Oleh sebab itu kamu harus mengubah nasib, kamu berbakat, kamu pasti berhasil. Asah semua bakatmu, siapatau prospektif kedepannya"
    Aku tidak mau membebani orangtuaku secara finansial.
    "Tidak, orangtuamu tidak terbebani. Orangtuamu sudah menyiapkan semuanya untukmu, anak kebanggan satu satunya"

    Itulah mengapa aku hampir tidak pernah merasakan indahnya bumi meroda dari tanah ini. Aku selalu berusaha menyeimbangkan diri, menghadapi terpaan angin di pencakar langit di atas sana.
    Terkadang aku ingin menjadi unplanners.

Monday, September 18, 2017

Lettering and when I started to make ones

    Salah satu hobiku selain baca, main gitar sama makan, adalah lettering dan typograph. Sejak kapan aku belajar lettering dan typograph, lalu dari mana aku belajar.
    Aku belajar typograph dan lettering awalnya dari belajar graffiti sama temen temen zaman SMP. Karena mayoritas temenku cowok, jadinya aku ikut kebiasaan mereka buat graffiti. Sampe sampe aku dibikinin nama sama salah satu dari mereka, namaku adalah "Mocha" gatau darimana temenku yang berinisial "Forte" (dulu "Disk") ngasih nama itu dan langsung sreg di aku, intinya aku suka banget. "Forte", "Kidz" dan "Rund" (maaf ya ini inisial semua) dulu yang ngajarin aku graffiti, Forte bisa banget wildstyle, Rund keren banget ngabstraknya dan Kidz itu....simpel tapi bagus gatau pokoknya bisa mindblown. Sebenernya ada satu lagi temenku namanya "Frck" dia bukan graffiti atau lettering tapi realis, realisnya bener bener keren, dia emang bakat dari lahir. Rund dan Forte yang dulu sering banget ngajarin aku serba serbi lettering dan typograph, karena aku agak nggak mungkin juga graffiti di tembok sedangkan aku cewek, mungkin mungkin aja sih sebenernya cuma aku belum sampe sana aja skill nya. Aku nggak bisa ngikutin gayanya Forte dan Rund soalnya itu bener bener signature-nya mereka, rada kesel akhirnya aku bikin aliranku sendiri yang malah sampe sekarang jadi signature aku, lettering.
    Font yang paling sering aku pake dulu adalah Old English, karena elegan udah gitu aja. Terus Forte bilang, jangan pake itu terus, coba tambahin font lain, yang variatif, apalagi kalo lettering nama orang yang kata nya 3 atau lebih. Jadilah aku download font font dan aku variasiin jadi apa aja, aku tambahin desain lain, aku pake bentuk-bentuk. Jadi gini, apa bedanya lettering sama typograph? Beda dong. Perhatikan ya
    Typograph adalah apa apa tentang penulisan huruf dan bagaimana cara membentuknya kembali (reformed) sesuai dengan signature kita. Intinya adalah seni merangkai huruf dan mencetaknya, mulai dari jenis font, ukuran, dll. Typograph adalah dasar dari segala kegiatan lettering dan calligraphy.
    Sedangkan lettering adalah seni menggambar huruf sesuai signature dari pembuat dan lebih banyak variasinya dalam satu work gitu.
    Nah sekalian sama calligraphy deh ya biar nggak bingung soalnya mereka saudara. Kalo calligraphy itu gampangannya adalah seni dimana kamu sekali nempelin pena ke kertas terus nulis udah langsung bagus, gitulah:v. Calligraphy sangat mencerminkan signature si creator, karena murni goresan pena pertama.
    Untuk belajar lettering, aku belajar typograph dulu. Aku nulis huruf R dari segala font dan menyesuaikannya dengan kemampuanku. Lalu aku lanjut huruf A, terus aku satuin, prosesnya emang lama dan bosenin aku sempet stop dari lettering soalnya bosenin emang. Tapi semuanya itu proses dan kebiasaan, kalo tanganmu sudah terbiasa nulis pasti hasilnya bakalan lebih bagus. Jadi intinya sering latihan aja. Di SMA ini aku giat banget lettering karena banyak aja inspirasinya, aku bikin buat kartu ucapan ulangtahun, wisuda, dan sekedar kado juga ada, sekedar nggabut juga ada. Nah kebetulan ada kakak kelasku yang juga bisa lettering dan dia pake watercolor juga sebagai variasinya, jadilah inspirasiku bertambah.
    Pengerjaan lettering variatif ya, tergantung mood. Ada yang dari jam 5 sore sampe jam 8 malem dapet lima lettering (belom di spidol), ada juga yang seminggu nggak dapet dapet wahyunya. Dari SMP sampe detik ini aku sudah ngabisin sekitar 5 sketchbook, jadi tolong ya, ulangtahunku tanggal 23 Januari, tolong ya....(#kode). Oya, aku baru berani memadukan warna waktu SMA ini, soalnya aku takut norak or something like that kalo campuran warnanya nggak bener, soalnya aku cuma punya spidol, acrylic sama watercolor, pake spidol aja enggak berani apalagi pake cat. Tapi semakin kesini aku semakin paham kolaborasi warna yang ciamik jadi aku beranikan dan WAOW, sketchbook ku lebih berwarna.
    Signature ku ada dua, yaitu pake border dan font nya simple di tengah. Aku terbiasa buat garis tepi (buat border, bisa 2cm-4cm), garis tengah vertikal dan horizontal terus kadang bikin lingkaran pake jangka di tengah. Emang aku orangnya OCD banget jadi semuanya harus rapi.
    So these are my works
Ini pertama kali aku bikin
Dalam rangka perpisahan SMP

Masih amburadul gt:v

Ini my best so far soalnya bikin nya pake hati:v


Pertama kali pake warna
DAN NGGA FAIL WOAH

Sebenernya masih banyak sih, ini yang kayak bener bener keliatan progressnya aja

Thursday, September 7, 2017

Collapse

June 6th

I see storm I see rain
The sky is rough as this pain
Those papercut wounds dwell
As I'm falling to deepest well

Asked for mercy as I pray
I'm not used to but I cry
Thoughts keeps on torturing me
Every late night at three

Crystal clear I see it falls
You will see my dream go crawls
I'll be drown in despair
In darkness with no air

Sungkem

Mudah bagimu mengatakan rindu
Lalu menggedor pintu rumahku
Rindumu telah usai
Kasihmu akan membelai

Mudah bagimu bertanya
Hubungi bundaku lalu kau lega
Urusanku tak pula runyam
Kasihmu hanya demam

Namun tidak bagiku
Berlinang air mata saat rindu
Memandang potretmu sudah cukup
Syair lagu lalu terasa hidup

Menggedor pintu rumahmu ku tak sanggup
Bertitip kue untuk adikmu pun tak cukup
Mengucap salam untuk ibumu tak pantas
Jika masih disini aku berbatas

Sungkem dhumateng bapak kaliyan ibu
Saya telah lancang mencintai putra ibu
Namun saya akan senantiasa berbenah
Akan tiba saat dipertemukan, pertemukanlah

Telah lama aku menantikan
Untuk mendekap adikmu dalam pelukan
Berkunjung ke makam malaikatmu saat muda
Mama...

Namun kusimpan rindu itu dalam surat
Hanya bantal yang akan kupeluk erat
Kecupku untukmu dan adikmu
Sungkemku untuk bapak dan ibumu

Sep 7th
9.02pm

Saturday, August 26, 2017

Mengorientasi (2)

    Hari ketiga MTM aku jaga gerbang dan malah dateng agak telat dari jam brieffing (well I'm sorry), THIS was the hardest sh#t ever. Selain banyak hal aneh aneh yang mengundang receh ku keluar kayak ada anak yang salim jidat sama Basith, ada anak dagel yang pamer kalo rambut dia sudah dipotong, ada juga temen-temen bi#dab yang nggodain aku, guru-guru yang juga kalo nggak ditanggepin ntar dikira kurang ajar, dan Ozi............yang lewat di depanku sambil kedip, HHHHHhhhhhHhh. Oya, ada ibu-ibu pake mobil fortuner putih yang titip dunkin donuts ke salah satu PDD MTM yang aku kira buat panitia MTM (turns out---untuk panitia PBB) ternyata waktu makan siang enggak dibilangin kalo buat panitia MTM, yahh nggak semangat deh. Untuk PBB hari ketiga agendanya lomba lomba, hari ini cuma review materi aja. Tapi karena kelasku udah kelar semua materinya dan udah review sedari kemaren, plus komandan gagah perkasa yang sudah dari kemaren siap, I had no doubt about my class, mereka sudah siap. Dan kita---unfortunatelly fortunate--adalah urutan pertama, well, makanya dari kemaren udah aku siapin untuk kemungkinan terburuk semacam ini. Sesudah lomba kita display, wohoo, aku semalem udah berdoa walaupun kemaren aku nggak latihan tapi hari ini aku nggak boleh salah. Display basically adalah---sorry not sorry---ajang pamer baris formasi ala-ala TONTI MANSA, jadi ada sekitar 8 formasi yang kita tampilkan. This part always be the most exciting thing of PBB karena yang bikin aku semakin tertarik masuk tonti dulu waktu aku kelas X ya karena formasinya. Sayangnya waktu kelas XI berhubung aku jadi sie acara aku nggak bisa gabung formasi, dan tahun ini, aku seneng banget bisa nampilin formasi.
    Selesai display ada pengumuman lomba, lord and behold the first place was my class, padahal mereka sempet nggak hadap serong dan setengah lengan lencang. But they won, at last, bangga banget! Setelah itu sesi foto, makan dan evaluasi, I was so sad this event ends, dan aku belum sempet ngucapin terimakasih sama sie acara tahun ini yang udah sering stres, but worth it. Daaaan, kita makan makan dunkin donuts di akhir acara sambil berlumuran coklat di pipi. Ternyata donat itu adalah dari salah satu wali murid yang sempet suudzon sama PBB takutnya di'aneh-anehin' sama kakak kelasnya, but turns out it was so fun dan bermanfaat, jadi rasa terimakasih itu ditunjukkan dengan beliin kita kita dunkin donuts! Nggak sia sia pokoknya.
    So yeah, itu adalah pengalaman mengorientasi yang......legit, and I will share the photos later, bye!

Panitia MTM oye

DK minus Fathur sama Berlian

DK behind the scene

DK behind the scene beneran-_-

Sayaang

Panitia PBB mantapz


PK dan PPK kelas juara


Anak buah acara topcer

people who read my blog

search here?

Amaranggana Ratih Mradipta. Powered by Blogger.