Sunday, November 27, 2022

a month as a gallery sitter in Sumakala Exhibition, Kraton Yogyakarta

Bulan November, aku dapet kesempatan buat jadi gallery sitter di pameran Sumakala, Kraton Yogyakarta. Awalnya aku dapet info dari temen jurusanku soal event ini, aku daftar (dan ternyata adalah katingku sendiri) dan langung kerja tanggal 1 November. Pamerannya buka hari Selasa-Jumat, jam 9 sampai jam 2 siang, di Kraton Yogyakarta, disini aku kenalan sama Asa dan Geo. Sebenernya tugas utama kita adalah mengamankan situasi dan guiding pengunjung dengan peraturan yang sudah tertera di pintu masuk pameran. Tapi seiring berjalannya waktu, kita juga jadi guiding koleksi yang ada disini. 

Minggu pertama jadi minggu aku buat belajar, baik belajar materi pameran ini sendiri (masa pemerintahan Sultan HB III dan Sultan HB IV), atau belajar cara menghadapi pengunjung bermacam-macam kelakuannya. Karena pameran kita di bulan November, yang sudah mulai memasuki musim hujan, kita juga harus siaga nih semisal ada yang bocor, atau semisal di bagian depan pameran ada yang menggenang. Tapi pada kenyataannya, hujan pun tidak mempengaruhi antusiasme wisatawan buat berkunjung ke pameran ini. Rata-rata harian pengunjung kalau weekdays sekitar 200 orang, dan lebih banyak wisatawan mancanegara, maksudnya, dibandingkan weekend, wisatawan mancanegara itu lebih banyak berkunjung saat weekdays. Nah, ketika weekend, itu sekitar 300 bahkan pernah bisa sampai 800 pengunjung, didominasi rombongan keluarga besar atau rombongan khusus, seperti dari sekolah atau universitas dan perguruan tinggi. 

Minggu kedua sebenernya adalah minggu paling hectic karena beberapa kali hujan angin, juga ada banyak rombongan dan liputan dari televisi luar negeri gitu. Minggu kedua ini juga ada banyak improvements dari panitia dan kurator (secara nggak langsung), kayak di beberapa koleksi dipasang barricade, biar aman dari goncangan pengunjung. Minggu ketiga dan keempat sebenarnya aku udah mulai nyaman, tapi nggak kerasa waktu ternyata udah sebulan dan kita harus cabut.

Bagian pekerjaan (ataupun kepanitiaan) yang kayak gini yang jarang aku dapatkan, dan memang bisa dikatakan, bukan spesialisasiku. Bagian yang harus ketemu banyak orang baru, dengan sikap yang beragam dan harus menghadapi apapun yang mereka lakukan (dalam kepanitiaan misal humas, sponsorship, lapangan). Social battery-ku sering habis padahal baru kayak dua jam, tiga jam. Dalam kesempatan ini sebenernya memang aku gunakan untuk memperbaiki diri, agar bagaimana aku bisa lebih baik dalam bersosialisasi, i made a very little progress, tho, but could've been better

So, if you ever crossed on a job vacancy as a gallery sitter, here are things that you should be considering:
1. Pelajari materi pameran dengan baik, pertanyaan pengunjung bisa beragam. Memang bukan kewajiban tertulis kita buat guiding koleksi (di Kraton, kasusnya, memang ada guide nya sendiri). Tapi itu bisa jadi pengalaman bagus untuk pengunjung dan menambah wawasan kita juga.
2. Tegas aja, semisal ada koleksi yang tidak bisa disentuh atau difoto.
3. Jaga sikap, sabar, dan tahan emosi sebisa mungkin kalau menghadapi pengunjung yang cukup unik.
4. Biasakan tepat waktu, baik opening pameran maupun closing. Overtime kelamaan juga bakalan bikin capek sendiri. Tepat waktu sebelum opening pameran membantu kita buat melihat apakah ada koleksi yang kotor atau kurang sesuai, bisa kita perbaiki dulu sebelum pengunjung datang.
5. Komunikasi sama rekan gallery sitter dan tim kurator bisa sangat membantu pekerjaan kita. Lumayan juga kan nambah koneksi, atau malah siapatau ketemu orang yang ternyata berasal dari alamamater yang sama (dalam kasusku).
6. Sarapan, is a must.

Thankyou Sumakala Exhibition and the team behind it!


See you on another post!

Saturday, November 26, 2022

kehidupan setelah yudisium

Aku bener-bener nggak konsisten deh kalo punya platform. Aku punya blog, kompasiana, Youtube dan dua akun Instagram, satu akun pribadi dan satu akun fotografi, semuanya nggak aku rawat, hadeh. Sebenernya konten ini mau aku publikasikan di Youtube, tapi aku nggak punya keberanian buat bikin video full curahan hati dan cuma ngomongin diriku sendiri, kadang enggak nyaman aja.

Jadi, sesuai judulnya, aku mau sharing soal kehidupanku setelah yudisium. Now, apa itu yudisium? Buat kalian yang belum tau, yudisium adalah penentuan nilai dan kelulusan dari fakultas, singkatnya adalah wisuda fakultas, kamu akan menerima transkrip nilai kamu, dan akan dinyatakan lulus, atau memenuhi syarat untuk melaksanakan wisuda. Aku yudisium tanggal 30 Agustus, aku langsung update CV-ku, bikin dalam bentu ATS, dan juga bikin portofolio. Aku bikin dua portofolio, satu adalah portofolio menulis dan satunya adalah portofolio video editing. Aku bingung, jujur, career path mana yang bakalan aku pilih. Lulusan sosial humaniora seperti aku diharapkan punya banyak tulisan, yakan, melakukan research and so on. Indeed aku suka menulis, dibuktikan dengan adanya blog ini, kompasiana dan bahkan diary-ku sendiri. Tapi kalau penulisan ilmiah aku memang kurang, aku cuma punya dua publikasi di koran dan laman sanskertaonline.id. Sedangkan skill video editing ku ini juga terlalu sayang kalau aku telantarkan. Tercatat sejak 2020 sampai sekarang aku udah ngedit lebih dari 20 video, baik video penampilan seni pertunjukan (di laman UKM), video edukasi (pas KKN), video project (bersama Kopernik dan Kedaireka) serta video-video lain yang aku edit for fun. Tapi aku cuma punya skill, aku nggak punya hardware dan software yang mumpuni untuk mengedit. That's my dilemma, for now. Aku juga apply ke berbagai lowongan pekerjaan, baik di Linkedin, Glints, Kalibrr, Jobstreet, you name them all. I keep track lamaran-lamaran yang aku sebar, apakah aku lanjut atau tidak diterima.

Alhamdulillahnya, aku ada rezeki buat jalan-jalan sama temen-temenku, dan membeli beberapa barang, anggep aja self reward atas semua yang telah aku lakukan. Bulan September aku full jalan-jalan bareng temen-temenku, ke Solo lihat Solo International Performing Arts (SIPA), menyaksikan berbagai festival kirab, nonton ketoprak di Taman Budaya, ikut acara HIMA jelajah ketandan, Pasar Kangen, Festival Kesenian Yogyakarta, ke Sungai Mudal di Kulon Progo, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC). Pokoknya semua event di Jogja aku ikutin, sebenernya buat cari kegiatan, pengalaman, dan ya...sekali-kali lah. Aku seneng banget bisa ikut semua event yang ada di Jogja, sebagai masyarakat Jogja sendiri gitu.





Di bulan Oktober dan November aku juga ikut project bersama dosen lagi, project untuk mendukung akreditasi dan juga aku ikut dalam proses akreditasi itu sendiri. Tentu saja projectnya adalah video, dan video 360, profile video fakultas dan beberapa program studi dan jurusan. Alhamdulillah jadi bisa beli baju buat wisuda.



Di bulan November aku akhirnya dapet kerjaan jadi gallery sitter di pameran Sumakala, Kraton Jogja. Karena wisudaku diundur, yang harusnya akhir November jadi awal Desember, aku sekalian aja kerja dulu buat nambah-nambah bekal finansial. Aku seneng sih kerja di Sumakala ini, dan nggak aku sangka aku ketemu beberapa alumni jurusan sendiri, aku jadi sedikit optimis lagi soal kemana masa depan dengan jurusanku bisa pergi. Nah, buat pengalamanku di Sumakala, bakalan aku post di postingan selanjutnya.

Sebenernya memang sedikit mengintimidasi, ketika kamu baru banget yudisium dan enggak langsung wisuda dan nggak ngapa-ngapain. Temen-temenku pada bilang aku buat sit down and relax dulu, empat tahun belakangan aku habiskan dengan bener-bener sibuk. Percayalah aku mau banget sit down and relax, di Bali, cuman aku gapunya duit kan. Aku juga bukan tipe orang yang enjoy di rumah diem aja, I used to had a very scheduled day, dan ketika aku tidak punya jadwal, itu bikin aku sedikit....kehilangan arah? Jadi aku tetep usahain produktif di kompasiana dan edit-edit video. So yeah, that's it, I guess, semoga bisa memberikan gambaran, wkwkwk, enaknya ngapain aja kalo ada gap waktu setelah yudisium ke wisuda.
Kalo kamu ada uang:
1. Ke luar kota, Bandung, Bali, Semarang, Malang.
2. Ikut pelatihan-pelatihan bersertifikat.
3. Perbaiki CV dan cari kerjaan, part time, buat ngisi waktu.
4. Just sit down and relax. Bersih-bersih kamar, siapa tau nemu sesuatu.

Kalo kamu ada sedikit/nggak ada uang (kayak aku):
1. Jalan-jalan di kota sendiri (thankfully aku tinggal di Jogja).
2. Ikut project dosen.
3. Perbaiki CV dan cari kerjaan.
4. Just sit down and relax. Bersih-bersih kamar, siapa tau nemu sesuatu.

See you on other post!

Monday, August 29, 2022

tentang skripsi

      Judulnya jujur dramatis banget, tapi emang dramatis kan. Skripsi memang menjadi suatu fase dalam kehidupan yang sangat dramatis, I don't want to sugarcoat it tapi emang skripsi itu susah. Tapi sesusah-susahnya skripsi juga lebih susah kalo harus nambah semester nggak sih? So, I hope temen-temen yang belum dari judul, semoga dimudahkan hidayahnya agar segera dapat judul dan segera nggarap sih. Ada beberapa hal yang I wished I knew sebelum-saat-dan setelah skripsian, atau menjelang sidang.

     Kata dosenku, ada 3 kedekatan yang harus kita cari saat mikir judul skripsi. Kedekatan ini penting banget dalam perjalanan kamu nulis, agar terus bisa konsisten dan nggak tergoyahkan buat ganti judul, karena itu urusannya bakalan lebih panjang lagi. Nah 3 kedekatan itu adalah:
1. Kedekatan hati, maksudnya adalah kamu harus suka dulu sama objek atau tema yang kamu kaji. Misal, aku suka sama sejarah kebudayaan dan kesenian, jadi aku pasti ambil sekitar itu, on the contrary aku nggak suka sama sejarah politik dan ekonomi, therefore aku nggak bakal ambil itu dan tidak akan menggunakan pendekatan itu juga. Kedekatan hati ini menurutku PENTING BANGET, karena gini, ketika kamu udah suka sama objek/tema nya, kesulitan apapun yang kamu hadapi bakalan lebih menyenangkan dibanding kamu menemukan kesulitan di objek/tema yang kamu gasuka. Udah pasti bakalan kepikiran buat berhenti dan ganti judul.
2. Kedekatan pikiran, ini maksudnya adalah jangka panjang, kamu kira-kira bisa nggak mengerjakan skripsi ini dalam tenggat waktu tertentu. Untuk mencapai kedekatan pikiran ini kamu harus riset tentunya, buat anak-anak sejarah, penting buat tau arsip yang digunakan itu ada dan bisa dijangkau enggak, dan kalau bisa dijangkau, dimana aja letak arsip-arsip ini. Kedekatan ini penting untuk menjaga konsistensi kita utamanya (karena aku MBTI-nya J 94%, aku planning bener-bener setiap BAB bahkan subbab, you don't have to do what I do but you know what I mean) ketika kita nyusun proposal. 
3. Kedekatan jarak, ini juga penting, karena urusannya sama duit wkwk. Ini yang aku luput banget dan kurang riset. Kedekatan jarak penting buat menjaga stabilitas (buset) dari dua aspek kedekatan diatas, kalau jaraknya jauh (dari kampus maupun rumah asal) pasti udah males banget buat ambil data, karena tenaga dan duit yang keluar juga banyak. Tapi gini, di aku, kasusnya adalah---aku pikir, arsip yang aku butuhkan ada di lembaga yang aku teliti (RRI) dan paling enggak di DPAD DIY atau mentok di ANRI, tapi TERNYATA EH TERNYATA di ketiga badan tersebut tidak ada arsip yang aku cari. Arsipku dipegang sama masing-masing pelaku seni, dan buku yang aku gunakan pun ada yang beberapa di Perpustakaan Nasional. Aku pikir penelitianku karena cuma di Yogyakarta, harusnya ya aku bisa menemukan semuanya di Yogyakarta dong, tapi ternyata tidak kawan. Jadi menurutku ini kamu juga harus itung-itungan, make plans, A LOT of plans and backup plans. Bikin tabungan khusus skripsi juga kalau kalian masih semester 3.



     Ketiga kedekatan itu perlu dikaji sih, asli, I wished I planned it better dari pencarian sumber sampe reasoning kenapa aku ambil judul ini. Judul aku memang udah ada yang pernah ambil sebelumnya, ada dua skripsi historiografi yang pernah menulis mengenai ini, tapi periodesasinya beda, isinya dengan isiku juga beda (obviously). I wished, aku mengambil periodesasi yang lebih singkat tapi mendetail. Untuk target sendiri sebenernya diriku sendiri adalah orang yang paling keras dengan targetku, jadi kalau ditanya, siapa yang nge-push diri saya? ya diri saya sendiri, haha. Bikin target tiap bulan adalah caraku agar tetap konsisten, kalaupun aku melampaui itu pasti nggak bakalan jauh banget dari targetku, karena kata Soekarno, bermimpilah setinggi langit karena apabila kamu jatuh kamu akan jatuh diantara bintang-bintang (ciah, jujur nggak nyambung). Jadi targetku awalnya adalah begini:


Januari: sempro sebelum 23 Januari.
Februari: bab II
Maret: bab III
April: bab IV
Mei: bab V dan review
Juni: sidang
Juli: yudisium
Agustus: wisuda

ADAPUN DALAM PELAKSANAANNYA WKWKWKWK.
Januari: belum kelar revisi proposal.
Februari: sempro
Maret: bab II
April: bab III
Mei: stuck di bab III, bingung mau lanjut bab IV, data kurang masih harus wawancara
Juni: bab IV mengebut bab V
Juli: sidang
Agustus: yudisium
November: wisuda

     Memang kalau dilihat-lihat gesernya paling enggak satu bulan. Bulan Mei itu adalah bulan tergelap dan ter-tidak produktif itu, ya Allah kenapa ya, aku menyesal banget jujur. Kalau aku bulan Mei lanjut ke bab IV aku pasti Juni udah bisa sidang dan balik ke timeline awal. Jadi sebenernya kalau kendalaku sendiri apa sih?
1. Arsip/sumber primer, seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau bahkan di RRI sendiri nggak ada arsip mengenai dirinya sendiri. This makes me mad, karena lembaga-lembaga yang sudah melalui banyak masa, katakanlah, bersejarah, akan sangat menjengkelkan ketika mereka tidak mengerti sejarahnya sendiri. Minimal memiliki arsip, atau buku-buku mengenai lembaganya, perpustakaan kecil mengenai lembaga ini, agar orang bisa membaca. Tapi tentu aja aku nggak bisa menyalahkan hal ini kan, aku akhirnya harus wawancara di beberapa tempat, dengan berbagai kondisi narasumber.
2. Pembahasan sekunder mengenai dampak kesenian ketoprak RRI Yogyakarta ini juga sebenarnya masih sedikit, itulah kenapa di skripsiku mencoba menjelaskan mengenai dampak dan fungsi konkritnya dalam masyarakat.
3. Sumbernya adalah narasumbernya, aku hanya bisa menjangkau 4 narasumber utama yang merupakan pelaku, dan 1 narasumber sekunder yang merupakan kepala dari ketoprak RRI Yogyakarta saat ini.
4. Friends, okay ini pembahasan yang rada nggak nyambung tapi beneran deh. I did all of my skripsi alone, without any friends (i'm talking about my college friends) buat brainstorming atau simply nyambat masalah skripsi. This is SO DAMN IMPORTANT, a friend, setidaknya teman terdekat yang bisa kamu percaya buat nggarap skripsi, maupun bahasan kalian beda, setidaknya semangat kalian sama. Kamu bantu dia cari data, and vice versa, kalian healing bareng, kalian ambis bareng. Karena apa? ini juga buat menjaga motivasi kamu dan mood kamu. Nggak ada orang yang pingin sendiri menghadapi salah satu fase perkuliahan yang sangat sulit, nggak ada. So please, ketika ada teman kalian yang membutuhkan bantuan, do help them.



     Aku punya dua buku yang membantu aku tracking progress. Buku pertama adalah buku agenda B5 dotted buat mencatat to do list. Misal aku hari Senin ketemu dosen, revisi, dan perbaiki bab berapa, itu aku bikin kotak dan centang di buku ini. Fungsinnya daily dan monthly planner. Buku satunya adalah binder yang membantu aku brainstorming (dengan diriku sendiri) maupun masukan-masukan dari dosbing. Jadi misal aku nulis 'revisi bab III subbab b' di buku agenda, dan detailnya aku tulis di buku binder. Aku sebenarnya melakukan hal ini bukan karena ambis, percayalah, karena aku anaknya pelupa, bingungan dan kadang lack of motivation. Lagi-lagi apapun aku lakukan untuk menjaga mood dan motivasiku, memaksa diriku buat terus jalan terus terus jalaaan sampe gatau targetku tercapai. 

     Alhamdulillah, I did it anyway, semua pengalaman aku menyelesaikan skripsi akan menjadi pengalaman berharga yang jelas bakalan ada manfaatnya buat aku dan akan aku ceritakan juga sama anak-anakku besok. It wasn't a perfect skripsi tho, tapi setidaknya aku harap ada fungsinya tidak hanya buat aku tapi juga buat orang lain. 

Sunday, August 7, 2022

SIDANG

      Weits, tidak ada waktu bersantai-santai sepulang dari Jakarta, karena kamu harus segera SIDANG. Jadi gini ceritanya, aku memang dari sebelum berangkat ke Jakarta (around tanggal 10 Juli) udah menyelesaikan semua revisi terakhir skripsi dan administrasi menjelang sidang, seperti lembar persetujuan ujian dan bebas teori. Aku belum whatsapp kaprodi karena aku baru selesai semua hari Kamis (14 Juli) dan malemnya aku berangkat ke Jakarta. Kebetulan juga acara keluarga itu tanggal 16 Juli, jadi aku selesaiin aja urusan keluarga. Hari Rabu (20 Juli) aku baru whatsapp kaprodi lagi, karena bebas teori dan administrasi sebelum sidang baru aku selesaiin hari Senin-Selasa, dan setelah aku whatsapp kaprodi aku, aku langsung dapet jadwal, yaitu 28 Juli, seminggu dari aku whatsapp beliau. Seminggu, posisinya aku masih di Jakarta, beliau (kaprodi ku juga penguji utamaku) dan dosbingku minta hardfile, rada sport jantung. Akhirnya tanggal 21 Juli sore, aku pulang ke Jogja, sampe Jogja 22 Juli jam 1 malam, dan jam 9 paginya aku langsung print skripsiku dua eksemplar dan aku kasih ke dosen penguji utama dan dosbingku, kalau dosen penguji dua (sekretaris) bisa di email. 

     Sebuah kebetulan yang keren, aku sidang bareng sama temen aku SMP yang menjadi sahabat satu prodi dari sahabatku SMA, yang prodinya masih satu jurusan sama aku, bingung nggak? wkwk, sebut saja namanya Dina. Akhirnya aku ngerjain presentasi dan belajar bareng sama Dina, alhamdulillah presentasi sehari jadi. 

     A news came, hari Selasa, 26 Juli, kalau sidangku harus diundur satu hari jadi hari Jumat, 29 Juli, dengan alasan dosbing dan penguji utamaku ada acara di kampus yang tidak bisa diwakilkan. Aku sedikit nge-down, jujur, karena deg-degan nya juga harus diundur dong WKWKWKWKWK. Tapi gapapa aku legowo, jadi yang harusnya hari H sidang, aku siangnya ke rumah Dina, habis itu aku belajar sama temenku di cafe sampe around jam 10 malem, dan aku tidur aja dah pokoknya, tanpa overthinking, tanpa beban, karena aku memang belum merasa deg-degan. Apa aja sih yang aku pelajari? welp, isi udah jelas. Menurutku paling dasar sebenarnya adalah kamu harus tau banget betul betul dari setiap bab yang kamu bahas itu ngomongin apa, jadi di H-sekian kamu harusnya belajar di luar materi utama dari skripsi kamu. So, aku belajar:
1. Metode, jadi tentu aja aku menggunakan metode historiografi, tapi disini spesifiknya aku menggunakan metode historiografi-nya Gottschalk, dan bukan punya Kuntowijoyo. Nah, kenapa aku memilih menggunakan ini, dan bagaimana proses aku mulai dari heuristik, kritik, interpretasi sampai pada penulisan itu gimana harus didasarkan teori Gottschalk dong biar konsisten. Aku belajar disitu.
2. Pendekatan, aku menggunakan dua pendekatan, yaitu Evolusi Multilinear dan Komunikasi Massa, alasannya dan implementasinya dalam penelitian ini apa, itu yang aku pelajari dan aku coba reasoning kenapa enggak dengan pendekatan lain yang mungkin masuk atau serupa. Inipun juga berkali-kali dibahas sama dosbingku.
3. Isi di luar periodesasi yang aku ambil, jadi aku penelitian tahun 1965-2002, jadi aku belajar diluar itu. Misal, sebelum tahun 1965 kondisi objek yang aku teliti seperti apa, kemudian setelah 2002 seperti apa. Ini tricky, tapi tidak buat aku, karena aku sengaja ngambil setelah 1965 untuk menghindari bahasan politik, jadi aku punya banyak hal dalam otakku apa yang terjadi sebelum 1965 terhadap objek penelitianku.
4. Undang-undang, ada banyak undang-undang yang aku tulis di skripsku, seperti radiowet, UU penyiaran tahun 1977 dan 1999. Meskipun aku tidak mengambil pendekatan politik, ini perlu sedikit disinggung karena hubungannya sama dampak, jadi ada sebab ada akibat, nah sebabnya kenapa sih bisa jadi seperti ini, aku belajar beberapa pasal yang berubah dan apa akibatnya buat objek penelitianku.
5. Presentasiku sendiri, yep, jangan sampe presentasiku beda sama skripsiku, apalagi JANGAN nambah argumen, dan mulutku juga harus sesuai sama slide presentasiku.
Cerita soal kenapa aku ambil judul ini buat skripsiku udah aku sedikit jelasin di postingan sempro jadi soal prosesnya akan aku jelasin di postingan selanjutnya yang khusus buat curhat ya, wkwk.

     Deg-degan nya baru hari H pagi subuh. Aku sebenernya udah siap-siap aja sama semua materiku, aku belajar mengenai teori dan pendekatan yang aku gunakan, aku juga belajar timeline di luar timeline yang aku ambil di skripsi, aku belajar hal-hal lain diluar isi skripsiku. Karena gini:
1. Dosen penguji utamaku itu hidup di masa timeline skripsiku, dan aku yakin beliau juga adalah salah satu pendengar dari kajian skripsiku. Beliau pasti lebih tau tokoh-tokoh dan dinamika apa yang terjadi pada masa itu.
2. Dosen sekretaris pengujiku adalah lulusan PhD Belanda. Pertanyaannya pasti kritis dan beliau bukan orang Jawa, tidak lahir dan dibesarkan di Jawa, jadi pertanyaannya akan di luar dari skripsiku, teori, misal.

     Alhamdulillah sih sebenernya aku bisa melalui semua ini, dengan aturan: YANG PENTING KALO ADA PERTANYAAN DIJAWAB SEBAIK MUNGKIN. Ini bener-bener dah kaya debat di dalam room, but thank God I through. Adapun revisi aku:
1. Kebanyakan adalah menyangkut pedoman, misal spacing-nya harusnya segini, ini harus mepet kiri dan segala macem, ini PR banget sih buat aku.
2. Detail soal transformasi budaya dari ketoprak panggung ke ketoprak radio, jelasin lebih dalam kenapa ketoprak bisa disebut sebagai kebudayaan rakyat (tentu aja ini dari dosen sekretaris, aku sudah menduga).
3. Kenapa harus ngambil awal tahun segini dan berakhir di tahun segini, berikan alasan spesifik banget pokoknya.
4. Lebih mendetail mengenai grup-grup yang ada sebelum tahun 1965 dan pada tahun 1965-2002.
5. Ketoprak RRI sampai sekarang masih ada dan masih eksis, sehingga argumen kalau menurun audiensnya itu harus disertai fakta data, kalau tidak ada jangan dicantumkan argumen seperti itu.

     Aku lalu diberikan waktu revisi 2 minggu, tapi bukan Amaranggana namanya kalau tidak ngebut. Akhirnya aku selesaiin revisiku 1 minggu persis, dan aku segera nyusun jurnal dan ngurus berkas yudisium. Ada banyak hal yang i wished i knew sebelum aku sidang, atau dalam penyusunan skripsi itself. Tapi kayaknya bakalan aku ceritain di postingan lain yaa! Huge thanks buat semua orang yang sudah mendukung, mendoakan dan bahkan hadir saat sidang aku, lemah teles, Gusti sing bakal bales.


Amaranggana Ratih Mradipta, S.S.


Saturday, July 23, 2022

Jalan-jalan di Jakarta lagi

      Kayak enggak ada capek-capeknya ke Jakarta terus ya aku tahun ini. Ya gimana dong, kebanyakan keluarga besar di Jakarta dan sekitarnya. Seperti biasanya, aku tidak menyia-nyiakan waktu sendiriku di Jakarta buat jalan-jalan. Sebenarnya aku pingin banget ke Kota Tua, udah lama, aku pingin merasakan Jakarta masa Batavia, please time travel take me back!

     Ada beberapa destinasi yang menjadi rencanaku, tentu saja mostly adalah museum. Pertama-tama adalah Museum Nasional, siapa yang nggak mau ke Munas?????? ya ada sih orang yang nggak tertarik ke Munas, cuman kalo aku tertarik ya, hehe. Kedua, museum Fatahillah, atau Museum Sejarah Jakarta, ini udah jelas banget karena tadi aku bilang pingin merasakan Jakarta masa Batavia, jadi aku harus ke Kota Tua dong. Dua opsi lainnya adalah Museum BI dan Museum Sejarah Nasional. Tapi pada kenyataannya aku hanya bisa cover dua museum, yaitu Museum Nasional dan Museum Fatahillah. 

     Museum Nasional masuknya cuma 15.000, tapi, oh, my, God. Sumpah, kalo aku punya lebih banyak waktu disini (dan tentu aja temen yang bisa diajak buat 'nggumun') aku pasti bakalan berlama-lama di museum ini. It was unreal, aku sampe bingung mau dokumentasiin apa aja, bener-bener keren banget bangunannya dan koleksinya. Buat temen-temen sejarah yang mau meneliti zaman Hindu Buddha kayaknya bakalan seneng kesini karena ada banyak koleksi arca dan prasasti di bagian depan pintu masuk.






     Destinasi kedua, aku langsung ke Museum Fatahillah, turun di stasiun Jakarta Kota dan ngeliat jalur rel buntu, udah pernah belom kamu? wkwk. Sayangnya, waktu itu kawasan Kota Tua lagi direnovasi, tapi digadang-gadang bakalan jadi area pedestrian. Aku setuju sih, soalnya emang enak aja buat jalan chill bareng temen (lagi-lagi saya sendiri gitu, nasibnya). Museum Fatahillah masuknya cuma 5.000 aja, tapi harus pake kartu Jakarta JakLingo yang topupnya minimal 35.000. Ini rada awikwok tapi sebenernya cukup menguntungkan karena kartu ini juga bisa digunakan untuk masuk beberapa destinasi wisata, KRL, MRT dan Bus Trans. Isinya Museum Fatahillah ini, seperti namanya, Museum Sejarah Jakarta, ya sejarah Jakarta dari zaman prasejarah sampai menjadi Jakarta. Menarik banget, soalnya seperti yang kita ketahui, sejarah Jakarta itu biasanya 'menarik' pas zaman-zaman Batavia karena akulturasi budaya Indis-nya, tapi sisi lain dari Jakarta juga menarik banget. Sayangnya memang aku nggak punya banyak waktu disini, padahal sebelah ada museum BI, see you next time Kota Tua when I got time and friend(s) with me.





     Sodaraku menyarankan aku buat kulineran di Blok M, dan dia juga nitip sesuatu di Papaya. Sayangnya aku enggak kulineran beneran di Blok M, aku cuma sholat dan makan di Plaza dan langsung ke Papaya. Tentu aja dari sini aku ganti dari KRL ke MRT. Kocaknya, aku ngide untuk mampir sebentar ke Citayam Fashion Show di Dukuh Atas, demi konten, demi nyenengin temen-temen aku yang tau aku di Jakarta dan nyuruh aku ke Citayam. Tapi bad idea juga karena aku pulangnya kesorean, dan aku bareng sama jam pulang kerja yang cukup brutal di Sudirman-Manggarai.





See you next time Jakarta!

Wednesday, June 15, 2022

Ramayana Prambanan (lagi): Manajemen Pementasan (in a nutshell)

      Jadi untuk bulan Juni ini, alhamdulillah, UKM aku mendapatkan kesempatan lagi buat mengisi Ramayana Prambanan, setelah 2 tahun vakum. Masalahnya, sekali perform lagi ini dapetnya yang open air, dan jadwalnya dapet empat kali. Sebuah....keberuntungan yang makjegagik. So, aku bakalan cerita sedikit mengenai bagaimana proses dari Ramayan Prambanan, versi UKM ku.

     Pertama-tama, apa yang dilakukan oleh UKM ketika menerima kabar bahwa akan mengisi Ramayana Prambanan? biasanya Pengurus Inti yang dihubungi, lalu PI akan mengadakan rapat untuk membagi kru. Pengurus bidang nonseni (litbang, kesra dan sarpras) biasanya mulai lebih akhir, tapi mereka pun memegang peran yang sangat penting dalam keseluruhan pementasan. Pengurus bidang seni yang akan riweh dalam menghubungi mas-mbak dan teman-teman yang sekiranya potensial untuk di-dhapuk, tapi tentu saja ini harus melalui 'seleksi' setelah rembug bersama demissioner. Kita bahas dulu satu satu. Untuk pengurus bidang litbang akan berperan menjadi pimpinan produksi, kepala dari pementasan ini, dia akan memastikan latihan berjalan dengan lancar. Hal ini tentu akan dibantu oleh bidang seni, mereka harus koordinasi mengenai dhapukan dan kapan latihan, karawitan kapan latihan, tari kapan latihan, goals tiap pertemuan apa, dan kapan akan tempuk gendhing. Tentu aja semuanya harus dibikin matriks, minggu ini goals nya apa, minggu depan goalsnya apa. Hal ini dilakukan karena mayoritas penari rampak adalah warga baru, kalau tokoh sih biasanya akan latihan di tempuk gendhing. Litbang juga harus mengurus kru, dia harus me-ndhapuk kru, mulai dari properti (merangkap SM), kostum, konsum, PDD dan P3K. Tapi dari seluruh kru ini pengurus juga harus ada, misal pengurus sarpras harus ada di kostum dan properti, pengurus kesra harus ada di konsum, pengurus litbang harus ada di PDD dan seterusnya. Proses dhapukan bisa dari open recruitment, atau langsung menggaet warga dan utamanya warga baru yang berpotensi menjadi pengurus selanjutnya. Selama latihan, tugas litbang adalah memastikan jadwal, dan properti sudah tersedia di tempat latihan. Litbang juga akan menyediakan laptop berisi rekaman Ramayana tahun sebelumnya sebagai patokan gerakan, utamanya untuk tokoh. Litbang juga bertanggungjawab atas dokumentasi latihan, baik dokumentasi digital maupun absensi.

penjelasan mengenai layout panggung

latihan ngelipet kain kumbakarna


     Pengurus Inti, seperti ketua dan wakil sebenarnya fungsinya adalah humas dari pihak Prambanan dengan UKM, jadi mereka bisa aja masuk ke dalam salah satu kru atau bisa juga mobile, bebas sih. Ketua dan wakil itu hubungannya bisa ke pihak Prambanan kalau ada perubahan scene dan lain-lain, dan juga ke supir bus Ramayana. Ini penting nih, jangan sampe nanti warga yang mau diangkut pake bus ketinggalan. Bendahara dan sekretaris tugasnya adalah memilah fee dari Prambanan, urusan berapa dan bagaimana pembagian fee adalah 'rahasia' internal PI, utamanya bendahara dan sekretaris.



proses usung-usung

     Bidang nonseni kedua adalah kesra, kesra disini umumnya bertanggungjawab atas warga, kesehatan warga dan konsumsi warga selama latihan sampai pementasan. Bisa dibilang kesra ini penting banget banget banget untuk menjaga stamina warga. Biasanya kesra menyiapkan P3K, obat-obatan dan vitamin, serta konsumsi selama latihan dan pementasan. Kesra ini krusial banget lah tugasnya menurutku.

     Ketiga, yaitu sarpras, atau dulu dibagi menjadi kostum dan properti. Tugas mereka sebenernya baru dimulai sekitar H-3 pementasan, yaitu set kostum. Ini juga penting dan perlu orang banyak, apalagi panggung open air yang penari rampaknya bisa mencapai 16 orang tiap rampak. Tugas sarpras disini adalah memastikan kostum dan properti lengkap dan dalam kondisi paripurna. Baiknya, begitu ada pengumuman kalau mau perform lagi, sarpas mengecek semua kostum dan properti, kalau ada yang rusak maka diperbaiki atau diganti, kalau ada yang kurang planning buat pinjem, biasanya sih pinjem ke UKM universitas sebelah. Kalau diperlukan fitting, maka akan fitting baju juga, utamanya buat rampak dan pengrawit. 


     Oke, selanjutnya adalah bidang seni. UKM aku ada empat bidang seni, yaitu tari, karawitan, teater dan pedhalangan. Nah pertanyaannya kan, yang biasanya dipakai adalah bidang seni dan karawitan, terus pengurus dan warga dari bidang teater dan pedhalangan ini ngapain? ada dua jawaban juga, antara mereka jadi kru atau jadi pemain malah. Bersyukurnya dalam UKM aku ini tidak ada penyekatan mengenai bidang yang kamu pilih di awal pendaftaran, kamu bisa aja daftar pedhalangan tapi ikut latihan tari, kamu bisa aja daftar bidang karawitan tapi belajar ngedit, semuanya bisa dan boleh. Itulah kenapa aku pribadi daftar di bidang tari, tapi waktu jadi pengurus di bidang litbang dan yet skripsiku soal teater tradisi, sebenernya semuanya berawal dari sini. Oke, balik ke apa yag dilakukan bidang seni yah. Bidang seni tentu akan diskusi dengan demissioner, memilih dhapukan tokoh dan rampak, karena sudah 2 tahun off, tentu mas-mbaknya juga udah ada yang lulus, pindah, menikah, punya anak, dan lain lain, jadi makanya pengurus harus diskusi dulu mengenai pemilihan nama. Setelah itu mereka akan nembusi mas mbak yang dituju, dan tentu saja mengadakan latihan. Sebenernya, baiknya, pengurus bidang seni tidak ikut dalam dhapukan penari, karena tugas mereka adalah sebagai manajer dari masing-masing bidangnya, yang tugasnya adalah memastikan kelengkapan rampak/tokoh/pengrawit yang dia pertanggungjawabkan itu berangkat pada saat latihan dan tentu saja saat pementasan. Istilahnya adalah 'mengayomi' warga yang dia pertanggungjawabkan. 

gladi resik


latihan

     Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan sama temen-temen aku mengenai proses dalam Ramayana ini.

1. Latihannya biasanya berapa lama?
Nah ini tergantung sama kapan kita ditembusi, biasanya sih mendadak wkwk. Jadi 1 minggu latihan sendiri-sendiri (tari rampak sendiri dan pengrawit sendiri) terus 3 hari tempuk. Gladi biasanya dilakukan hari H sore hari di lokasi, mulai jam 2 sampe jam 5 biasanya. 

2. Siapa yang makeup in di lokasi?
Sendiri, wkwk SENDIRI DONG, tapi tentu aja akan dibantuin satu sama lain. Apalagi waktu pake kostum, jangan khawatir.

3. Persiapan makeup dan kostum biasanya berapa lama?
Paling lama 1.5jam, jadi gamau tau gimana caranya 1.5 jam itu waktu paling lama. Habis gladi biasanya ada waktu buat makan dulu, tapi aku sih biasanya menyarankan kru dan pemain buat makan di siang menjelang sore, waktu rampak mereka belum dapat giliran gladi, meminimalisir kenyerepegan semua ini.

4. Adegan anoman obong yang pake api beneran itu, beneran? gimana cara rampaknya sama anoman latihan?
Jujur itu murni komunikasi antara anoman dan rampak buto, mereka latihan sendiri. Ini adegan bebas banget mau ngapain, karena kan kondisinya chaos ya. Intinya sih improvisasi mereka.

5. Dokumentasi pementasan boleh dipublikasikan enggak sih?
Dokumentasi pementasan adalah milik UKM, atau UKM fotografi yang diizinkan dipublikasikan atas izin UKM aku ini. Dokumentasi full pementasan tentu nggak boleh dipublikasikan di youtube, karena bayar ya wak, ini, pementasannya.

     Buat aku, jadi pemain maupun kru di pementasan yang agung ini adalah sebuah pengalaman yang bener-bener berarti. Tentu aja aku bisa nonton pagelaran magical ini, tapi juga terlibat dalam kru menambah pengetahuanku mengenai nilai profesional dari sebuah pementasan. Aku nggak tau di UKM atau sanggar lain bakalan lebih mendetail seperti ini atau enggak, yang jelas, aku bersyukur banget bisa ikut belajar dalam pementasan Ramayana Prambanan.

Tuesday, March 15, 2022

Diorama Kearsipan Yogyakarta

      Hari ini, 15 Maret 2022, aku mengunjungi Diorama Arsip Jogja, tempatnya di Gedung Depo Arsip DPAD DIY, atau belakang gedung Grhatama Pustaka (Perpustakaan Daerah), gampangnya tempat Pasar Kangen kemarin, nah gedung yang itu. Aku kemarin kesini, tapi kuotanya penuh, dan website nya lagi nggak bisa dipake, jadi aku registrasi kemarin untuk hari ini jam 9.40. Setiap sesi dibatasi maksimal 10 orang dengan 1 guide yang akan menjelaskan bagian-bagian dari setiap diorama. Totalnya ada 18 diorama dengan durasi perjalanan 90 menit. Seperti namanya, Diorama Arsip Jogja, ya jelas mencakup sejarah Yogyakarta, dari masa Panembahan Senopati sampai saat ini. HTM Free, jadi tunggu apa lagi? Ada beberapa peraturan yang harus diindahkan oleh pengunjung selama mengunjungi diorama ini, kira-kira gini:

1.       Menitipkan tas besar dan jaket di meja receptionist.

2.       Mengenakan shoes cover atau boleh melepas alas kaki.

3.       Selama di ruang diorama, pengunjung dilarang untuk:

a.       Makan dan minum.

b.      Mengambil foto mendetail mengenai arsip yang disajikan.

c.       Mengambil video satu durasi penuh.

d.      Mengambil foto/video menggunakan kamera DSLR (pokoknya selain kamera hape tidak diperbolehkan).

e.      Menyentuh arsip dan layar diorama.

      Karena aku hari itu lagi nggak pake kaos kaki (I know, gross), jadi aku milih buat pakek shoes cover tapi emang licin sih. Diorama pertama adalah diorama Hadeging Mataram sih kalo kataku (lupa judulnya), intinya dari Alas Mentaok, sampe Sultan Agung mangkat. Videonya ilustratif banget, disertai dengan keterangan-keterangan waktu dan peristiwa, durasinya sekitar 10 menit kalo enggak salah sih, I don't know, I was lost in time, aku menikmati banget videonya. Setelah itu kita jalan lagi di diorama arsip Sultan Agung sampai perjanjian Giyanti, terus Hadeging Ngayogyakarta. Pada beberapa diorama itu ada layarnya jadi kita juga diberikan tontonan gitu, kalo di diorama Yogyakarta kita sambil nonton Beksan Lawung Ageng yang gagah abis. Menurutku, konsepnya diorama ini menarik banget, karena nggak Cuma arsip, tapi juga ada tontonannya dan ada kayak....apa ya, miniatur bagian depan Kraton Yogyakarta dan bagian depan Pakualam, terus ada pojok beteng yang disorot semacam jadi kelirnya buat video yang ditampilkan pada diorama Geger Sepehi, dan lain-lain. Setiap diorama durasinya sekitar 2-3 menit, jadi kita nggak bisa langsung pergi ke diorama selanjutnya, semisal ada layar tancepnya gitu, ya nunggu sampai habis. Jangan khawatir, setiap diorama yang ada layar tancepnya ada tempat duduk.

     Diorama paling seru buat aku itu diorama 'Lokomotif Perubahan', adalah diorama yang menampilkan bagaimana peran kereta uap (kereta api) itu membawa perubahan yang sangat besar bagi Yogyakarta dan sekitarnya, bukan hanya dari aspek ekonomi, tapi sampai aspek hiburan dan pariwisata juga. Dalam diorama 'Lokomotif Perubahan' ini jadi ceritanya kita lagi ada di dalam kereta, di lantai itu ada rel kereta, dan di dinding diorama menampilkan 'perjalanan' kereta api ini, dari awalnya buat mengangkut tebu, jadi untuk transportasi publik. Aku bias aja mungkin, soalnya aku kan suka banget naik kereta. Selain menampilkan sejarah Yogyakarta secara kronologis, juga ada beberapa bagian yang lebih fokus pada satu aspek, misal pada diorama Yogyakarta Kota Pendidikan, Yogyakarta Kota Budaya, Yogyakarta Kota Pariwisata dan Yogyakarta dan Kebencanaan. Pada diorama Yogyakarta dan Kebencanaan ini ditampilkan dokumentasi dari gempa Opak 2006 dan Merapi 2010, dijelaskan dari berbagai aspek, juga menampilkan data kerugian, data korban, kompilasi koran-koran yang menampilkan berita mengenai bencana ini, secara geografis juga dijelasin mapping dari denah terdampak bencana.

     Menurutku diorama ini menarik konsepnya, jadi semisal orang yang bosen dengerin sejarahnya bisa sambil liat-liat arsip foto, arsip benda, atau sekedar hunting foto, karena tiap diorama juga instagram-able banget (at least if that's what makes you came here for). Diorama ini juga bisa untuk semua umur, tadi aku (aku sendiri, sad) satu rombongan bareng sama keluarga yang bawa anak balita dan batita, sampai ibu-ibu dinas, couple, pokoknya bisa, tapi ya watch your kids kalo temen-temen berniat bawa anak. Temen-temen yang mau berkunjung kesini, sebelumnya juga bisa download aplikasi Augmented Reality (AR) yang bisa diunduh di website nya. Aplikasi ini nanti bisa untuk scan di setiap diorama, dan di beberapa foto/arsip, pokoknya jadi lebih asik deh (si gagap teknologi yang ndeso). Aplikasinya lumayan besar (download nya 112mb) jadi make sure pake wifi, kecuali emang lagi hedon aja.

     So that is it! Kesanku terhadap Diorama Arsip Jogja yang keren banget, aku harap konsep kayak gini bisa dicontoh sama ekshibisi lain, untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda dan interaktif.

 PHOTODUMPSSS










 

 

                                                                                                                                                           






people who read my blog

search here?

Amaranggana Ratih Mradipta. Powered by Blogger.